my succes story

SUCCESS STORY

Gambar

 

Nama               : Amalia nur aksani

TTL                 : Sragen, 23 Agustus 1992

Pekerjaan         : Mahasiswa

Alamat asal     : Pondok, Trombol, Mondokan, Sragen

Alamat Jogja   : Babadan, Banguntapan, Bantul, Jogjakarta

Pendidikan      : 1. SD Suwatu Tanon Sragen (lulus tahun 2004)

                          2. MtsN Tanon Sragen (lulus tahun 2007)

                          3. SMA 1 Sukodono Sragen (lulus tahun 2010)

Orang tua        : Suyatno (Ayah)

                          Umi Khasanah (Ibu)

Pekerjaan         : Petani, Guru swasta Mts Muhammadiyah 1 Trombol (Ayah)

                          Pedagang (Ibu)

Hobi                :  memasak, membaca (novel, cerpen, komik), nonton film, jalan – jalan

Riwayat kerja  : 1. Staff pengajar di TPA Ad Darojat Babadan, Banguntapan, Bantul (2tahun)

                          2. Staff pengajar di Rumah Educative (BIMBEL) Babadan (2 bulan)

                          3. karyawan Ghani Swalayan, Sorowajan, Bantul (5 bulan)

                          4. karyawan pabrik tekstil (1 bulan, masa training)

 

Saya adalah seorang anak yang berasal dari keluarga sederhana. Saya lahir dari pasangan suami – istri yang menikah pada usia 20tahun. Ayah saya berasal dari keluarga yang cukup berada pada masa itu, dan ibu saya juga berasal dari keluarga yang cukup terpandang karena ayah ibu saya merupakan orang yang dikenal di desa dengan kemampuannya menyembuhkan penyakit. Dia bukan dokter, juga bukan dukun, tapi kakek saya lebih ke tukang urut dan penasehat spiritual.

Keluarga saya hidup dengan bahagia meski dengan sederhana. Orang tua saya juga sangat menyayangi saya dan saudara – saudara saya. Dari kecil, kami tidak di manja oleh orang tua. Kami sudah dilatih mandiri sejak kecil. Ibu saya merupakan pedagang yang setiap harinya pergi ke pasar tradisional. Dia selalu berangkat pukul 6 dan pulang pukul 12. Saya dan saudara – saudara saya, dari kami usia 1 tahun sudah sering di tinggal oleh ibu ke pasar, bahkan adik saya yang paling kecil sudah di tinggal ibu ke pasar pada usia 1 minggu. Semua itu dilakukan karena ibu merupakan tulang punggung keluarga. Bukan karena ayah kami tidak bertanggung jawab, tapi lebih karena ayah tidak punya bakat untuk berdagang atau lainnya. Ayah bekerja sebagai petani yang hasilnya tidak mencukupi kebutuhan keluarga, juga penghasilannya sebagai guru swasta tidaklah cukup untuk kehidupan sehari – hari, maka ibu yang turun tangan untuk membantu ekonomi keluarga.

Saya dan saudara – saudara saya selalu di nasehati dan di beri pelajaran tentang kehidupan oleh ibu saya. Beliau selalu menceritakan masa kecilnya yang sangat sulit sebelum ekonomi keluarganya membaik. Beliau selalu bilang kalau beliau harus mengembala kambing setiap harinya, mencari rumput sepulang sekolah dan bekerja mencuci baju ke tempat saudara sebagai tambahan biaya sekolah. Beliau juga bilang bahwa saat sekolah beliau tidak pernah jajan, pakai baju seadanya dan menggunakan sepeda milik kakek saya yang ukurannya tidak pas dengan ukuran badan ibu waktu itu. Padahal jalan ke sekolah jauh dan naik – turun. Beliau juga bilang kalau orang tuanya sangat sibuk bekerja disawah sampai – sampai tidak pernah bisa pergi ke sekolah untuk mengantarkan ibu mendaftar sekolah maupun mengambil raport saat kenaikan kelas. Semua cerita itu telah tertanam dalam hati kami semua, dan menjadi panutan dalam kehidupan kami semua. Ayah merupakan anak bungsu, sehingga masa mudanya tidaklah sesulit ibu karena pada masa muda ayah keluarganya sudah cukup berada.

Ibu sudah melatih anak – anaknya melakukan pekerjaan sejak kecil. Dari usia 10 tahun, saya sudah dilatih melakukan pekerjaan rumah yaitu mencuci piring dan menyapu halaman. Sebelum saya berangkat sekolah, saya harus menyelesaikan pekerjaan saya baru berangkat sekolah. Jalan ke sekolah SD tidaklah begitu jauh dari rumah, hanya melewati satu desa, karena itu untuk ke sekolah saya tinggal jalan kaki. Saat SD pun, uang saku yang di beri  ibu hanya 100 rupiah saat kelas 1 sampai kelas 4, dan kelas 5 sampai 6 baru 300 rupiah. Meski itu jumlah yang jauh dari uang saku teman – teman yang rata – rata sudah lebih dari 500 bahkan 1000 rupiah waktu, saya menerimanya dengan senang, karena saya tahu ibu saya mendapatkan uang itu dengan susah payah. Pada waktu kenaikan kelas, semua anak diwajibkan membeli buku, tetapi saya tidak bisa membeli semua buku yang diwajibkan karena keterbatasan biaya, tapi saya tetap bisa menduduki peringkat 5 besar tiap tahun meski saya tidak mempunyai buku yang komplit seperti teman – teman lainnya. Saya juga bisa mendapat juara lomba menggambar dan mewarnai tingkat sekolah meski hanya juara tiga, tetapi saya sangat bangga waktu itu karena saya bisa mengalahkan teman – teman saya yang alat mengambarnya jauh lebih bagus. Mereka menggunakan cat warna, spidol warna, juga pastel warna yang mahal, tetapi saya hanya menggunakan pensil warna biasa tetapi saya tetap bisa mendapat juara tiga. Itu adalah moment paling bahagia waktu SD. Selain itu, saya juga bisa mendapat bantuan biaya sekolah mulai kelas 4 sampai lulus, sehingga orang tua tidak perlu memikirkan biaya sekolah saya lagi dan meringankan beban mereka. Mulai kelas 5 SD, saya sudah mulai membantu mencuci baju keluarga, waktu itu kakak saya kelas 1 SMP. Kami bertugas mencuci baju keluarga karena ibu sudah terlalu capek dengan berdagang dan memasak setiap harinya, maka tugas mencuci baju kami yang mengerjakan. Waktu itu, sungai di belakang rumah masih jernih dan belum kotor, sehingga kami mencuci baju di sungai setiap hari sambil mandi bersama teman – teman lainnya. Kami melakukan semua itu dengan senang dan tanpa beban karena selain mencuci kami juga bisa bermain bersama teman – teman.

Setelah lulus SD, saya berencana ingin masuk ke SMP Negeri karena semua teman saya masuk kesana, selain itu SMP Negeri juga dekat dengan rumah sehingga untuk kesanannya tidak butuh waktu lama dan tidak melelahkan. Saat saya mengutarakan keinginan saya, dengan bijak ibu dan ayah bilang kalau di SMP saya tidak akan mendapat banyak ilmu agama, selain itu biaya disana juga terlalu mahal untuk ekonomi keluarga, sehingga orang tua saya menyarankan saya untuk mengikuti jejak kakak saya sekolah ke Mts Negeri yang biayanya jauh lebih murah dan ilmu agamanya lebih banyak meski jauh dari rumah. Ayah dan ibu sangat menjunjung tinggi ilmu agama, mereka ingin anak – anaknya memahami agama dengan baik, selain itu mereka juga sering mengisi pengajian di perkumpulan desa makanya mereka ingin anak – anaknya bisa menjadi orang yang paham agama karena mereka sendiri juga mengajarkan agama kepada orang lain. Oleh karena itu semua anak mereka disekolahkan di sekolah yang ada pelajaran agamanya, bahkan sekarang kedua adik laki – laki saya di pondokkan di pondok pesantren yang khusus untuk menghafal Qur’an di Jogja, dan adik saya yang kedua sudah hafal Qur’an sekarang sedang yang satunya sudah hafal 20 juz Al qur’an. Semua itu karena orang tua saya ingin agar anak – anaknya bisa memahami agama dengan baik dan menjadi orang yang berhasil nantinya baik duniannya juga akhiratnya.

Pertama mendaftar ke Smp, saya di antar oleh ayah saya karena saya belum tahu lokasi Mts itu. Setelah mendaftar, 1 minggu kemudian hari di laksanakannya tes seleksi masuk Mts. Ayah saya saat itu ada pekerjaan di sawah dan ibu bekerja di pasar sampai siang, karena itu mereka meminta saya berangkat sendiri ke sekolah untuk tes, meski saya belum begitu hafal jalan menuju ke sekolah itu. Akhirnya saya berangkat sendiri kesana dengan naik sepeda, saya memberanikan diri karena saya tidak mau gagal masuk ke sekolah itu. Saya menempuh jarak hampir 7 kilometer dari rumah, padahal sebelumnya saya belum pernah pergi sejauh itu dengan sepeda apalagi melewati jalan yang masih asing bagi saya. Saat hampir sampai di jalan menuju sekolah, saya lupa belokan yang menuju sekolah itu, waktu itu saya hampir menaggis karena takut terlambat, tetapi beberapa saat kemudia, saya melihat orang lain dengan seragam SD naik motor dengan orang tuannya belok kesalah satu jalan. Saat itu saya langsung berpikir kalau dia pasti juga mau tes ke Mts tempat saya tes, maka saya segera mengikutinya. Ternyata dugaan saya benar, sehingga saya sampai di sekolah tepat waktu. 1 minggu kemudian pengumuman hasil tes keluar, saya mengambilnya sendiri juga, selain karena orang tua sibuk juga karena saya sudah tahu jalannya jadi tidak masalah lagi kalau saya pergi sendiri. Paman saya merupakan salah satu guru di sekolah saya, beliau bilang kalau saat tes masuk saya menempati peringkat ke 20 dari 900 siswa lebih. Saya sangat terkejut waktu itu, tapi saya juga sangat bahagia. Setelah hari pengumuman, baik daftar ulang dan proses lainnya saya sendiri yang datang ke sekolah. Tahun pertama disekolah itu saya merasa sangat kesepian karena tidak ada orang yang saya kenal atau teman SD saya yang mendaftar ke sekolah saya. Tetapi semua itu saya jadikan motivasi bahwa saya harus lebih baik dari waktu SD dan mendapat teman lebih banyak lagi.

Pada bulan – bulan pertama kelas, ada mata pelajaran fisika. Guru saya menjelaskan tentang para penemu yang sangat berjasa, salah satunya adalah Thomas Alva Edison. Beliau menuliskan motto dari Thomas Alva Edison di papan tulis, yang salah satunya adalah “kesuksesan itu 1% kepintaran dan 99% kerja keras”. Mulai hari itu, motto dari Edison selalu saya ingat dan saya jadikan motto hidup. Ujian pertama waktu SMP, saya merasa sangat takut, saya berpikir bagaimana kalau nilai saya lebih jelek dari waktu di SD padahal saya ingin menunjukkan pada teman – teman saya yang sekolah di SMP Negeri bahwa saya tidak kalah dengan mereka meski saya sekolah di Mts. Dengan motto bahwa kesuksesan bukan dari kepintaran tapi kerja keras, saya mulai semangat untuk belajar karena waktu SD saya tidak begitu pintar, maka saya ingin menunjukkan bahwa sekarang saya bisa menjadi lebih baik dengan belajar dan berusaha menjadi juara. Akhirnya hari pembagian raport tiba, waktu itu ibu saya yang datang mengambil raport ke sekolah. Saya menunggu dengan cemas di rumah. Akhirnya ibu pulang dengan raport di tangan beliau, saya sangat penasaran juga cemas dengan hasilnya. Ternyata nomor yang tertulis pada kolom prestasi atau peringkat kelas saya adalah 1. Betapa bahagianya saya waktu itu, semua yang saya impikan menjadi kenyataan, saya membuktikan bahwa saya bisa berhasil meski tidak sekolah di SMP Negeri.

Hari itu adalah hari pertama masuk setelah menerima raport. Semua murid kelas 1 sampai 3 dikumpulkan di halamn sekolah untuk upacara. Setelah upacara ternyata ada acara lain, yaitu pemberian penghargaan bagi peringkat 1, 2, dan 3 tingkat sekolah atau pararel istilahnya waktu itu. Satu persatu nama siswa yang menduduki peringkat pararel disebut, mulai dari kelas 3, 2, dan 1. Tingkat pararel merupakan tingkat tertinggi di sekolah, yaitu penyaringan prestasi dari semua siswa yang mendapat peringkat pertama tingkat kelas. Waktu itu saya juga berharap bahwa nama saya akan di sebut dari sekian nama yang ada. Peringkat disebutkan dari peringkat ke 3. Kepala sekolah mulai menyebutkan nama siswa peringkat ketiga serta jumlah nilainnya. Badan saya gemetar waktu itu, dengan hati yang sangat berharap dan jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya, seakan – akan ingin melompat keluar dari badan. Ternyata nama pertama yang disebut bukan nama saya, lemas badan saya waktu itu, harapan saya pudar. Nama kedua disebut, waktu itu saya sudah berusaha menerima kalau saya mungkin tidak termasuk daftar siswa tingkat pararel. Saya mendengarkan nama serta jumlah nilai peringkat kedua dengan seksama. Tubuh saya mulai gemetar lagi, manakala saya mendengar kalau jumlah nilai peringkat kedua 2125, karena saya ingat benar kalau jumlah nilai saya 2216. Saya mulai menenangkan diri saat kepala sekolah mau menyebutkan nama peringkat pertama, dan ternyata waktu itu nama saya  yang keluar. Tumpah semua air mata saya, kaki saya seperti tak mampu meyangga tubuh saya, saya benar – benar terkejut bahwa saya bisa mendapat peringkat 1 dari semua siswa kelas satu yang mendapat peringkat pertama kelas. Saya mendapat beasiswa setahun penuh karena prestasi saya, betapa bahagiannya saya karena dengan beasiswa itu orang tua saya tidak perlu pusing memikirkan biaya sekolah saya. Semua itu membuktikan bahwa apa yang dikatakan Edison benar, kesuksesan itu tidak tergantung kepintara, tetapi lebih ke kerja keras kita. Tahun – tahun berikutnya saya turun ke peringkat 2 kelas, semua itu karena saya yang mulai sering bermain dengan teman – teman baru saya. Ujian nasional tiba, waktu itu saya sudah berjanji pada diri sendiri bahwa saya harus mendapat nilai bagus dalam ujian sehingga saya bisa melanjutkan sekolah SMA dengan mudah dan motto Edison kembali saya tanamkan dalam pikiran saya setiap kali saya mulai malas. Hari dimana ijazah diberikan kepada kami semua murid kelas tiga, saya melihat nilai saya dengan puas karena tidak ada nilai 7 dalam ijazah saya. Kepuasan saya menjadi bertambah manakala guru saya menyampaikan bahwa siswa yang mendapat nilai tertinggi dalam ujian akhir adalah saya. Kelulusan SMP saya rasakan dengan sangat bahagia, karena saya dapat mengulang prestasi yang saya raih pada tahun pertama yaitu sebagai siswa dengan nilai tertinggi satu angkatan dari 900 siswa lebih.

waktu pendaftaran SMA tiba, saya sudah memilih SMA yang terdekat dengan rumah karena melihat dari biaya transportasi yang akan lebih ringan serta biaya pembangunannya pun lebih rendah dari sekolah lainnya. Dengan ijin dari orang tua, saya berangkat bersama teman saya untuk mendaftar ke SMA itu. Semua tes saya kerjakan dengan sungguh – sungguh, dan akhirnya saya diterima sebagai siswa di SMA itu. Seperi sebelumnya, semua proses masuk SMA saya sendiri yang datang ke sekolah tanpa orang tua, meski kadang juga ditemani teman saya. Tahun pertama saya merasakan kesepian lagi, karena hanya 4 dari teman SMP saya yang masuk ke SMA saya dan tidak ada yang satu kelas dengan saya. Kebanyakan teman SMP saya memilih SMA di kota, karena SMA saya merupakan sekolah yang lokasinya di desa dan dikelilingi dengan sawah, makanya tidak banyak teman saya yang mendaftar kesana.

Mulai pertengahan kelas satu, saya mengusulkan bantuan biaya bagi siswa kurang mampu ke sekolah, semua syarat saya kumpulkan dan serahkan ke sekolah, dan ternyata saya masuk salah satu siswa yang menerima bantuan itu, sehingga selama 3 tahun sekolah, orang tua saya tidak memikirkan biaya SPP saya. Mereka hanya memikirkan biaya buku – buku serta keperluan lainnnya. Saya merasa senang tidak begitu membebani orang tua dengan biaya sekolah, karena pada waktu itu orang tua juga membiayai kakak saya yang sekolah di pondok pesantren di Gunungkidul, Jogjakarta. Meski sekolah kakak saya juga gratis, tapi biaya lainnya seperti buku, transportasi pulang, serta uang saku masih tetap di berikan setiap bulannya oleh orang tua, selain itu adik saya juga masuk SMP bersamaan dengan saya masuk SMA dan ada juga adik saya di SD. Dengan semua tanggungan biaya itu, saya merasa senang bisa mengurangi beban orang tua.

Akhir semester kelas 2 SMA, sekolah mengadakan study tour  ke Bali. Semua siswa diwajibkan ikut karena akan ada tugas akhir sebagai syarat kelulusan selama study tour. Melihat kondisi ekonomi keluarga , saya memutuskan tidak akan ikut study tour ke Bali. Saya beranikan diri mengutarakan maksud saya kepada wali kelas dengan alasan yang jelas mengapa saya tidak mau ikut ke Bali. Setelah berbicara dengan kepala sekolah, wali kelas saya bilang tidak apa – apa saya tidak ikut dan akan di ganti dengan study ke Museum Sangiran  yang masih berada di kawasan kota saya. Ternyata banyak teman saya yang juga tidak ikut setelah mendengar saya tidak ikut ke Bali, alasannya macam – macam dan ada juga yang karena ekonomi keluarga tapi ada yang karena ingin menggunakan uang ke Bali untuk keperluan lain seperti beli HP dan lainnya. Dari SMP dan SMA, saya tidak mengikuti semua study tour yang di adakan sekolah dan memilih membuat kliping atau tugas lainnya, karena lebih memikirkan ekonomi keluarga. Semua itu tidak membuat saya sedih atau iri dengan teman lainnya, justru membuat saya bangga karena denga tidak ikut study tour itu saya bisa membantu meringankan beban orang tua saya, dan pada akhirnya meski saya tidak mengikuti study tour saya tetap bisa lulus dengan nilai memuaskan.

Hari kelulusan SMA tiba, semua siswa menuggu orang tua mereka yang mengambil pengumuman diluar gerbang sekolah. Satu per satu orang tua teman – teman lainnya keluar, ada yang bermuka ceria tapi ada juga yang bermuka sedih. Mereka yang lulus bersorak bahagia bahkan mencoreng – coreng baju dan muka mereka dengan pilok warna sebagai tanda kebahagian mereka, tapi mereka yang tidak lulus sedih, menaggis bahkan ada yang pingsan. Ibu saya menjadi salah satu dari orang tua murid yang bermuka ceria, dan saya menjadi salah satu murid yang berbahagia. Saya memeluk ibu saya dengan erat waktu itu dan menaggis dalam pelukannya sebagai tanda kebahagiaan dan waktu itu saya kembali yakin bahwa setiap kesuksesan berawal dari kerja keras kita. Ibu saya melarang saya berpesta pilok dan pawai keliling jalan seperti teman – teman lainnya, maka setelah menerima pengumuman saya pulang dengan ibu meski teman – teman lainnya mengajak saya ikut pesta kelulusan.

Kuliah, merupakan mimpi yang lama saya miliki selama sekolah SMA. Semua orang pasti ingin menempuh pendidikan sampai tingkat perguruan tinggi. Namun dengan kondisi ekonomi keluarga, mimpi itu saya pendam dalam hati dengan keinginan bisa terwujud suatu saat nanti jika memang Allah menghendakinya. Saya memutuskan untuk membantu orang tua dengan mencari kerja. Kakak saya yang sekolah di Jogja sudah bekerja sebagai pengajar Tk di Jogja meski Cuma lulusan SMA. Dia mengajak saya ke Jogja dengan keinginan untuk mencarikan beasiswa kuliah saya awalnya. Saat itu, mimpi untuk bisa kuliah kembali memenuhi hati saya. Tapi, setelah beberapa minggu di Jogja dan pergi ke beberapa perguruan tinggi untuk mencari beasiswa, tidak ada hasil yang memuaskan. Tak satupun perguruan tinggi yang memanggil untuk membicarakan  masalah beasiswa. Harapan saya mulai pupus, dan saya memutuskan untuk memendam kembali mimpi saya. Saya mulai mencari kerja di Jogja, dan diterima di salah satu pabrik tekstil di Bantul. Selama 2 minggu saya menjalani kerja training disana, dan suatu hari kakak saya datang ke kost, waktu itu bulan puasa. Dia datang dan mengatakan bahwa ada satu universitas yang membuka beasiswa bagi siswa yang kurang mampu dan meminta saya untuk mencoba mendaftar.

Hari itu, hati saya sangat bimbang memilih, antara melanjutkan kerja saya dan membantu orang tua atau berhenti kerja dan kuliah. Setelah mendapat restu orang tua, saya memantapkan diri untuk ijin ke atasan dan pulang kerumah untuk mengumpulkan semua syarat beasiswa itu. Semua syarat dapat saya kumpulkan dengan mudah dalam 2 hari, saya merasa semua ini merupakan jawaban dari doa – doa saya selama ini sehingga jalan untuk menuju kesana juga sangat mudah. Dengan motto bahwa kesuksesan dari kerja keras kita, Saya pulang ke Jogja dan mengumpulkan semua berkas ke universitas yang dimaksud dan kembali bekerja sambil menuggu pengumuman. Seminggu kemudian, kakak saya mengirim sms yang mengatakan kalau saya diterima di Universitas tersebut. Hari itu hari yang sangat membahagiakan bagi saya, karena mimpi saya yang sempat kandas beberapa kali akhirnya terwujud, saya bisa menjadi mahasiswa dan sekali lagi membuktikan kata – kata Edison kalau kesuksesan berasal dari kerja keras kita.

Mulai dari daftar ulang dan kuliah perdana saya datang sendiri meski belum tahu jalan menuju kampus. Saya mengendarai sepeda kakak saya dan mencari kampus saya dengan rute yang diberitahu kakak saya, dan seperti waktu SMP, saat saya tidak tahu arah mana yang diambil, saya melihat orang yang mengenakan jaket almamater universitas yang saya maksud. Saya mengikuti arah yang diambilnya dan sampai di kampus yang saya cari. Seperti waktu SMA, saya sekolah dengan sepeda selama 2 tahun sebelum ikut naik motor tetangga saya masuk ke sekolah saya saat saya kelas 3, waktu kuliah pun saya naik sepeda selama 2 semester sebelum orang tua membelikan motor. Motor itu pun Cuma saya pakai selama 1 semester lebih, karena setelah itu kakak saya kecelakaan saat mengendarai motor itu dan motornya harus dijual untuk mengganti biaya rumah sakit orang yang tertabrak oleh kakak saya serta ganti rugi ke kantor polisi.

Semester berikutnya saya naik sepeda lagi, sampai semester 5 dan sudah setahun ini saya menggunakan motor paman saya karena beliau sakit saat kecelakaan sehingga motornya tidak ada yang menggunakan. Melihat kondisi orang tua saya yang semakin tua dan lemah, saya memutuskan untuk mencari tambahan uang agar tidak terlalu membebani orang tua. Selama 2 tahun kuliah pun, saya tidak meminta uang untuk kost pada orang tua karena saya tinggal secara gratis di asrama Tpa dan saya juga mendapat gaji selama mengajar disana, selain mengajar Tpa saya juga mengajar Bimbel pada malam harinya. Tapi saya hanya mengajar selama 2 bulan di Bimbel karena kepala Tpa juga Asrama melarang saya melakukan pekerjaan lain selain mengajar Tpa. Pada akhirnya, Setelah ada salah paham dengan kepala Tpa disana, saya memutuskan keluar juga dari sana dan pindah ke tempat paman saya. Saya tidak lagi mengajar, maka saya juga tidak mendapat tambahan uang lagi dan saya juga akan menambah beban orang tua. Maka saya mulai mencari lowongan kerja part-time di Koran, sudah hampir 1 bulan saya belum mendapatkan kerja, hingga teman saya mengajar Tpa dulu memberitahu kalau ada lowongan di swalayan di desa sebelah dan dekat dengan rumah paman saya. saya  segera mengecek ke swalayan itu dan mencatat syarat – syarat masuk menjadi karyawan disana setelah sebelumnya saya meminta ijin orang tua untuk bekerja sambil kuliah. Saya diterima sebagai karyawan dan mulai kerja 4 hari setelah saya menyerahkan lamaran. Saya senang bisa bekerja dan mencari uang sendiri, tapi fisik saya tidak bisa menanggung semua aktifitas saya sehari – hari yang kuliah dan bekerja sampai pukul 10 malam, hingga setelah 5 bulan bekerja, penyakit saya yang sudah lama tidak kambuh kembali menyerang fisik saya. Hampir seminggu saya terkulai di tempat tidur dan tidak bisa melakukan aktifitas, hingga orang tua saya datang ke Jogja untuk melihat kondisi saya. Orang tua meminta agar saya periksa ke rumah sakit, dan dokter bilang kalau saya harus banyak istirahat dan tidak boleh terlalu capek, maka dokter menyarankan saya untuk berhenti bekerja. Mendengar itu, orang tua saya juga meminta saya berhenti bekerja. Awalnya, saya sangat berat meninggalkan pekejaan saya, selain saya sudah enjoy dengan karyawan lainnnya, juga saya bisa mendapat penghasilan yang lumayan dari sana sehingga tidak perlu meminta uang orang tua. Tapi karena perintah orang tua yang memaksa saya keluar, maka saya memutuskan keluar dari pekerjaan dengan berat hati, dan hingga kini saya belum bekerja lagi meski saya sangat ingin bekerja. Itu karena orang tua saya masih melarang saya bekerja melihat keadaan saya yang sering kambuh penyakitnya setiap kali saya kecapekan. Tapi tetap, saya akan mencari cara untuk mendapatkan uang sendiri tanpa meminta orang tua baik dengan mencoba usaha sendiri maupun mencari pekerjaan yang tidak banyak menguras tenaga serta yang saya senangi. Saya akan selalu menanamkan pada diri saya, bahwa kesuksesan 99% berasal dari kerja keras kita, dengan begitu saya akan selalu semangat untuk melakukan semua kegiatan saya dan dengan yakin bahwa saya akan sukses nantinya.

lampiran: 

Gambar

 foto: kerja di Ghani swayalan 

 

Gambar

 

foto : anak – anak Tpa Ad Darojat

 

Gambar

foto : mengajar di Tpa Ad Darojat 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s